Tatkala rasulullah
mengambil bai’at dari orang-orang anshar pada perjanjian Aqabah kedua, diantara
para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan
wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih mengkilat serta memikat perhatian
dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika berbicara maka orang yang melihatnya
akan tambah terpesona karenanya, nah itulah dia Mu’adz Bin Jabal Radhiyallahu
‘anhu.|
Muadz
bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji,nama lengkapnya dan dengan nama julukan “Abu
Abdurahman” adalah salah satu sahabat nabi, seorang pemuda Anshar
teladan, termasuk golongan Anshar yang pertama masuk Islam dan turut serta
dalam baiatul Aqabah dua. Kepandaian dan kepahamannya dalam ilmu agama diakui
oleh Rasulullah SAW dan
banyak sahabat, Rasulullah SAW menyebutnya
sahabat yang mengerti dalam masalah halal dan haram. Ia juga merupakan
periwayat hadist
Muadz bin Jabal Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Allah mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu Muadz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka, misalnya Amru bin Al-Jamuh.
Muadz bin Jabal Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Allah mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu Muadz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka, misalnya Amru bin Al-Jamuh.
Tetapi kelebihannya
yg paling menonjol dan keistimewaannya yang utama ialah fikih atau keahliannya
dalam soal hukum. Keahliannya dalam fikih dan ilmu pengetahuan ini mencapai
taraf yang menyebabkannya berhak mendapat pujian dari Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam dengan bersabda :
“Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz
Bin Jabal”
Dalam
kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu’adz hamper sama
dengan Umar Bin Khattab. Ketika Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam hendak mengirimnya ke yaman, lebih
dulu ditanyainya :
“apa yang
menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu , wahai mu’adz ?
“Kitabullah ya Rasulullah…” jawab mu’adz.
“jika engkau tidak menjumpainya dalam kitabullah ?” Tanya rasulullah lagi
“saya akan putuskan dengan Sunnah Rasul”
“bagaimana jika tidak engkau temui dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasul ?”
“saya akan pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia..”
maka wajah Rasulullah berseri-seri,sambil bersabda, “ Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhoi oleh Rasul-Nya”
“Kitabullah ya Rasulullah…” jawab mu’adz.
“jika engkau tidak menjumpainya dalam kitabullah ?” Tanya rasulullah lagi
“saya akan putuskan dengan Sunnah Rasul”
“bagaimana jika tidak engkau temui dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasul ?”
“saya akan pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia..”
maka wajah Rasulullah berseri-seri,sambil bersabda, “ Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhoi oleh Rasul-Nya”
Maka kecintaan
Mu’adz terhadap Kitabullaah dan Sunnah Rasulullah tidk menutup pintu untuk
mengikuti buah fikirannya, dan tidak menjadi penghalang bagi akalnya untuk
memahami kebenaran-kebenaran dahsyat yang masih tersembunyi yang menunggu usaha
orang yang akan menhadapi dan menyingkapnya. Mungkin kemampuan untuk berijtihad
dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan mu’adz
berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fikih, mengatasi teman dan
saudar-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai “orang yang
paling tahu tentang yang halal dan yang haram” .
Amirul Mukminin
Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan
dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya
dalam hukum, Umar pernah berkata, "Kalau tidaklah berkat Mu'adz bin Jabal,
akan celakalah Umar!"
Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: "Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara."
Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 35 tahun!
Mu'adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.
Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu'adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.
Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu'adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu'adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu'adz dan mengemukakan masalah tersebut.
Mu'adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.
Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu'adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. "Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!"
Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu'adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. "Tidak satu pun yang akan kuambil darimu," ujar Abu Bakar.
"Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik," kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu'adz.
Andai diketahuinya bahwa Mu'adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu'adz.
Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.
Mu'adz pindah ke Syria (Suriah), di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah—amir atau gubernur militer di sana serta shahabat karib Mu'adz—meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria.
Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: "Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara."
Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 35 tahun!
Mu'adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.
Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu'adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.
Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu'adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu'adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu'adz dan mengemukakan masalah tersebut.
Mu'adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.
Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu'adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. "Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!"
Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu'adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. "Tidak satu pun yang akan kuambil darimu," ujar Abu Bakar.
"Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik," kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu'adz.
Andai diketahuinya bahwa Mu'adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu'adz.
Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.
Mu'adz pindah ke Syria (Suriah), di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah—amir atau gubernur militer di sana serta shahabat karib Mu'adz—meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria.
Saat
tiba ajalnya, dalam sakaratul mautnya, muncullah dibawah sadarnya hakikat
segala yang bernyawa ini, dan seandainya ia dapat berbicara akan mengalirlah
dari lisannya kata-kata yang dapat menyimpulkan urusan dan kehidupannya…
Pada
saat-saat itu Mu’adz pun mengucapkan perkataan yang menyingkapkan dirinya
sebagai seorang Mu’min yang tawadhu’. Sambil matanya menatap ke arah langit, ia
bermunajat kepada Allah yang maha pengasih, seraya berkata :
“Ya
Allah, sesungguhnya selama ini aku
ttakut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau
mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai
atau menanam kayu-kayuan….tetapi hanyalah untuk menutup haus dikala panas, dan
menghadapi saat-saat gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan
ketaatan…”
Lalu
diulurkanya tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam
keberangkatannya ke alam ghaib ia masih berkata, “ Selamat dating wahai
maut. Kekasih tiba saat diperlukan”.
Mu’adz bin
Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tersebut, waktu itu
usianya 35 tahun .
Wallahu
a’lam.

0 komentar:
Posting Komentar